Nandung. Dindingpun bilang suaramu besar. Apalagi
kuping yang terhantam-hantam? Sungguh geli nandung. Kita terpingkal karna tak
merdu lalu riang mengambil talu. Berdendang-dendang, berasik-asik.
Ndung Nandung. Masih doyan melagukah kau? Lenggokan
jari-jarimu yang mirip jahe, sodorkan pengeras lalu bilang "suara tak
okemu biar liar". Hingga tak okeku seketika menyambar-nyambar. Kau terpingkal
lagi. Aku terjungkal menjadi-jadi.
Cukup sudah tahun Nandung. Kini aku tak punya kau
yang mulutnya mainkan parau. Rindu sekali rasanya ndung, sekalipun denganmu hanya melagu yang itu-itu
saja. Led Zeppelin atau Van Hallen yang celananya sering buat kita nangis
kegelian. Rindu. Sungguh ini rindu yang membludak-bludak.
Nandung, Kau hanya satu walau banyak kujumpa yang
serupai kau. Mereka tak kalah parau, tak kalah riang dengan nyanyian. Hanya
saja aku enggan geli, enggan bertalu, diam saja tak terusik. Kau tau mereka
nandang? Bukan nandung seperti kau.
Terakhir ya ndung. Nyanyikanlah lagu pengobat hati
sampai aku bangun dari rindu. Sebait saja ndung, sebait saja.
Untuk Nandung Mawita pelantun setia Soldier Of Fortune

1 Comments
Selamat kembali kepada kata-kata Mi, selamat tenggelam kepada dunia penuh rima.
ReplyDelete