Untukmu, venus kecil.
Aku tidak bisa memberimu apa-apa selain satu-satunya
milikmu. Kukembalikan ia padamu, venus. Kukembalikan ia karena aku mencintaimu.
Kukembalikan ia; cahayamu. Tumbuhlah dengan berani. Tak ada yang akan hilang
darimu. Tenanglah, sayang. Aku menjagamu dari kejauhan. Kini aku di tubuh pagi.
Saat gelap, aku melihatmu di ufuk sana. Cantik sekali, sayang. Kau begitu
cantik dengan cahayamu yang sendiri. Begitu lebih baik. Kau dengan cahayamu,
dan itulah yang kukembalikan padamu; cahaya. Aku akan bahagia dengan pagiku. Menatapmu
dari jauh, menatap yang bersinar dan saling berangkulan. Tubuh kecilmu, cahaya
lembut yang akan selalu jadi milikmu.
Jalan panjang dan pagi adalah sebuah kutukan kekal.
Kau tak akan pernah menjadi masa silam dan kenangan. Venus,
kuhidupkan kau di mataku, di dadaku seumur yang mampu aku jalani. Jika
terpejam, aku bisa melihatmu di langit-langit mataku. Jika membuka mata, kau
ada di langit sana. Mampu kusentuh dengan telunjuk, lalu kita berdua tertawa di
tempat masing-masing tanpa tahu apa yang membuat kita bahagia. Venus, aku sudah
memilih tempatku sama hal sepertimu yang tak pernah beranjak pergi dari timur.
Tempatku adalah awal pagi, di mana tempat itu tak akan membuatku lupa untuk
selalu menjagamu dari jauh lalu tersenyum dan mencintaimu.
Tetaplah di sana venus, bukan hanya cahayamu yang kucintai.
Bukan hanya ia tapi juga kau. Ya kau, venus kecilku yang dicintai cahaya tanpa
henti, tanpa mati.
Lalu kau wahai pagi, kini aku berani dengan segala
kekosonganmu. Tak ada lagi yang bisa kau rampas dariku. Lihatlah, mereka yang
kucintai begitu kokoh di langit sana. Kau kenal langit bukan? Ya. Itulah dadaku
kini. Kau akan mati dengan kekosonganmu kecuali jika ikut dengan satu-satunya
cara yang kulakukan: mencintai.
Cinta yang bahagia, cinta yang mencintai. Begitulah..
21 November 2012

0 Comments