Kini tanah merahnya pudar. Bukan karena kematian, bukan.
Tapi yang hidup, habis sudah ditangisi sepanjang waktu.
Mata air pun tak lagi kenal bening. Merah-merah yang luruh
bercampur bisu. Tenggorokan kerbau bahkan rusa yang meminumnya tersedak, satu
persatu mati lalu turut memudar. Ada racun mengalir ke tubuh. Ya, ia ada dan
berkembang biak.
Sementara, yang luruh ke sungai menjemput nyawa. Bersama
segerombol hujan dan sampah. Kali itu tak ada yang diantar kembali ke tanah. Ke
lautlah; tempat segala derita diurai ombak. Semua diberangkatkan menuju
matahari yang tak bisa ditemui di satu garis pantai pun. Ya, semua tenang
berkendaraan laut.
yang diurai jadilah badai. menjadi-jadi, hilang purnama.
Kadung sudah menuju hitam. Kini tanah, kini sungai dan
lautan. Dengan tegas, merah pergi tak jelaskan tujuan. Melambai lalu bercerai
di banyak persimpangan. Kematian tak lagi kenal kuburan karena nisan-nisan
dibawa mereka yang hidup, gantikan kepala lalu memanjang menuju dada. Di banyak
ruang riuhlah hidup menjadi lebih sunyi dari kematian-kematian yang dikuburkan.
Kini tanah merahnya pudar.
Menuju hitam
Hanya hitam
Lalu langit; ia putih
Jantungnya,
Selalu biru

0 Comments