Subscribe Us

Header Ads

PUDAR


Kini tanah merahnya pudar. Bukan karena kematian, bukan. Tapi yang hidup, habis sudah ditangisi sepanjang waktu.
Mata air pun tak lagi kenal bening. Merah-merah yang luruh bercampur bisu. Tenggorokan kerbau bahkan rusa yang meminumnya tersedak, satu persatu mati lalu turut memudar. Ada racun mengalir ke tubuh. Ya, ia ada dan berkembang biak.

Sementara, yang luruh ke sungai menjemput nyawa. Bersama segerombol hujan dan sampah. Kali itu tak ada yang diantar kembali ke tanah. Ke lautlah; tempat segala derita diurai ombak. Semua diberangkatkan menuju matahari yang tak bisa ditemui di satu garis pantai pun. Ya, semua tenang berkendaraan laut.

yang diurai jadilah badai. menjadi-jadi, hilang purnama.

Kadung sudah menuju hitam. Kini tanah, kini sungai dan lautan. Dengan tegas, merah pergi tak jelaskan tujuan. Melambai lalu bercerai di banyak persimpangan. Kematian tak lagi kenal kuburan karena nisan-nisan dibawa mereka yang hidup, gantikan kepala lalu memanjang menuju dada. Di banyak ruang riuhlah hidup menjadi lebih sunyi dari kematian-kematian yang dikuburkan.

Kini tanah merahnya pudar.
Menuju hitam
Hanya hitam
Lalu langit; ia putih
Jantungnya,
Selalu biru

Post a Comment

0 Comments