Layung, pelankan lagi larimu petang ini. Jangan
terburu-buru, jangan takut hujan. November memang tegaskan dirinya sendiri.
Banyak air, banyak yang mengalir tidak hanya dari langit, tapi mata. Ya,
lihatlah. Mata-mata; hujan seperti November. Tapi layung, petang ini tak salah
jika kau berusaha pelankan larimu. Mencuri lengah hujan yang waspada, lalu
hadirkan kembali dirimu yang sejatinya riang dan tak pucat.
Mereka yang tergopoh di jalanan, tak salah jika memiliki
sedikit keberuntungan sebelum hadapi malam.
Kita tak lagi bicara tentang layang-layang yang mendengkur
pulas di kolong dipan. Kita bicara tentangmu yung, hanya tentangmu. Aku tak
bosan pada hujan. Jika pun kehadirannya memberi kesempatan pada bencana,
bukankah manusia sendiri yang terlebih dulu membuka pintu lebar-lebar pada
bencana? Lihatlah sungai, lihatlah got-got di kota, apakah hujan yang bawa
sampah-sampah itu dari langit? Yang aku tahu, pada akhirnya bencana tidak kenal
bijaksana. Dengan diam, dia akan libatkan dirinya pada siapa saja tanpa
pengecualian. Tapi sudah kubilang aku ingin bicara tentangmu saja, layung.
Engkau yang datang dengan petang, dengan tatapan lembut yang seolah bicara bahwa
semua akan baik-baik saja.
Di wajahmu ada tuhan dan harapan.
Pelankan larimu petang ini, layung. Seperti kejenakaanmu di
musim kering berangin, seperti larimu dulu yang kerap memelan hanya sekedar
untuk temani terbang layang-layang. Jika pun hujan tak memberi kesempatan,
hadirlah di langit-langit mata kami sebagai penawar cemas hingga air mata
sekali pun membeku tak ingin keluar.
Hey layung, berhentilah pucat. Musim tidak boleh jadi alasan
agar kita tinggalkan warna apalagi rasa syukur.

0 Comments