Subscribe Us

Header Ads

LAYUNG NOVEMBER


Layung, pelankan lagi larimu petang ini. Jangan terburu-buru, jangan takut hujan. November memang tegaskan dirinya sendiri. Banyak air, banyak yang mengalir tidak hanya dari langit, tapi mata. Ya, lihatlah. Mata-mata; hujan seperti November. Tapi layung, petang ini tak salah jika kau berusaha pelankan larimu. Mencuri lengah hujan yang waspada, lalu hadirkan kembali dirimu yang sejatinya riang dan tak pucat.

Mereka yang tergopoh di jalanan, tak salah jika memiliki sedikit keberuntungan sebelum hadapi malam.

Kita tak lagi bicara tentang layang-layang yang mendengkur pulas di kolong dipan. Kita bicara tentangmu yung, hanya tentangmu. Aku tak bosan pada hujan. Jika pun kehadirannya memberi kesempatan pada bencana, bukankah manusia sendiri yang terlebih dulu membuka pintu lebar-lebar pada bencana? Lihatlah sungai, lihatlah got-got di kota, apakah hujan yang bawa sampah-sampah itu dari langit? Yang aku tahu, pada akhirnya bencana tidak kenal bijaksana. Dengan diam, dia akan libatkan dirinya pada siapa saja tanpa pengecualian. Tapi sudah kubilang aku ingin bicara tentangmu saja, layung. Engkau yang datang dengan petang, dengan tatapan lembut yang seolah bicara bahwa semua akan baik-baik saja.

Di wajahmu ada tuhan dan harapan.

Pelankan larimu petang ini, layung. Seperti kejenakaanmu di musim kering berangin, seperti larimu dulu yang kerap memelan hanya sekedar untuk temani terbang layang-layang. Jika pun hujan tak memberi kesempatan, hadirlah di langit-langit mata kami sebagai penawar cemas hingga air mata sekali pun membeku tak ingin keluar.

Hey layung, berhentilah pucat. Musim tidak boleh jadi alasan agar kita tinggalkan warna apalagi rasa syukur.

Post a Comment

0 Comments