Subscribe Us

Header Ads

JANTUNGMU SURGAKU


Jika dunia tidak memberiku kesempatan, biarlah aku menjadi pengantinmu di surga sana.

Catatan kecil ini aku buat dengan sepenuh sadar. Di sebuah November yang tua dan pucat, bayangan 27 tahun usiaku membayang samar. Tuhan tahu aku begitu ketakutan. Pasrahkan diri pada catatan yang tidak akan membantuku lari atau sekedar bersembunyi. Iya, sayang. Ternyata kemana pun aku putuskan pergi, tidak ada tempat yang ijinkanku melupakanmu, melupakan segala hal pendek yang jatuh menimpa kita. Ialah cinta, yang bertahun-tahun lamanya selalu datang berwujud ancaman pada hidupku. Kau pasti tahu, sayang. Sesering apa pun kau bilang aku cerdas, ketakutan pada cinta itu melekat erat di mataku. Dan kau juga pasti tahu kalau keputusanku untuk mencintaimu sama halnya dengan berlari menabrak ombak besar lalu berusaha agar tubuh kecilku tidak terseret jauh ke tengah lautan. Tapi kaulah lautan itu. Ya, engkaulah ia. Aku terseret jauh ke tubuhmu yang dalam dan asin. Ialah Maryam, sahabatku. pemberi ban bebek bekas anaknya. Hingga kini hanya itu yang kupunya sebagai bekal karena selebihnya aku tak pernah mampu berenang dengan benar.

Mengarungimu, mencari matahari dan pagi. Begitu seluruh sepi hanya milik kami yang mencari cahaya.

Sayang, dadaku tidak penuh lubang. Dadaku adalah satu lubang besar yang kosong dan mengerikan. Selama ini, hanya kau yang mampu masuk, membuat api unggun lalu berusaha tidur di dalamnya. Aku sendiri tak berani, sayang. Dadaku selalu punya cara untuk membuat siapa pun yang masuk tersesat dan menangis termasuk aku, termasuk kamu atau siapa saja. Tapi engkaulah sang pemberani yang masuk dan tidur tanpa peduli bahwa kau bisa mati kelaparan karena aku tak kunjung datang bawakan makanan.

Entah siapa kita. Kau si lautan, atau aku pemilik lubang besar, tanpa darah.

Terombang-ambing di dirimu adalah sebuah kepedihan. Dadaku kini penuh dengan air asin yang menampar-nampar dindingnya. Dingin sekali, sayang. Tubuhku menggigil. Sulit sudah kubedakan; mana airmu, mana air mataku. Semuanya garam, hanya garam. Kenapa November ini tidak mencintaiku. Hujan hadirkan badai, hujan mengikis harapanku untuk menemukan jantungmu. Lautan ini begitu menyesatkan, sayang. Sementara di satu tempat yang lain, aku tahu kau tidur dan meringkuk di pinggir api unggun yang kian lama, kian redup nyaris padam. Dadaku memang kurang ajar. Lautmu, begitu berlebih ajaran.

Sayang, ini malam ke 21 di November kita. Malam yang bagai umur dunia, malam yang di mataku tidak ramah pada orang-orang yang menunggu dan mencari. Dia menyakitiku tanpa bulan, hanya hujan. Kulit tubuhku seperti terlupas, batas sabar pada dingin habis lalu tubuhku makin ringkih dan tak lagi mampu bertahan. Di mana kamu? Di mana pagi? Aku ingin tidur saja jika bisa. Tidur di tengah badai, lalu terbangun di pagi yang hanya punya ketenangan. Tapi kenyataannya, tenyata malam lebih bengis dari yang kuperkirakan. Aku tak mampu melewatinya.

Matahari dan pagi, aku tidak bisa menemukannya di dunia. tapi ada negeri yang sangat indah di langit sana. Di mana itulah rumah kalian, itulah rumah kalian.

Kekasihku, lihat aku sudah ada di tengah lautanmu. Dengan ban bebek kecil, dengan senyum bahagia. Tunggu aku, akan kulepas ban ini. Sebentar, sayang. Sebentar, aku bergerak menujumu. Matahari dan pagi sudah tidak lagi kuinginkan. Tidak, jika kenyataanya aku masih terapung dengan kepala makin gila dan cemas. Sayang, bangunlah dan tunggu aku. Kubilang, aku menujumu sekarang. Lepas ke dalam, jauh dan jauh hingga dasar. Kau tahu rasanya seperti apa? Seperti berlari di padang kecil menuju sebuah rumah di atas bukit. Ada kau di sana menungguku bersama cahaya.

Yakinlah tenggelam dan karam tak semenyakitkan terapung tanpa akhir. Di tubuhmulah semuanya terjadi: kehidupanku, kematianku.

Sudah kubilang padamu berkali-kali. Jika dunia tak memberiku kesempatan, maka aku ingin menjadi istrimu di surga sana, di sebuah negeri atas langit yang kini tak lagi terlihat jauh. Walau setelah tiba, aku akan sadar bahwa akulah yang menunggumu di sana. Bukan kau, sama sekali bukan.
Wahai kekasihku, bangunlah sekarang di dadaku. Sebentar lagi matahari dan pagi singgah ke sana. Tak usah cemas dengan gelap dan kabut. Tahukah sekarang aku sudah bahagia? Tenggelam jauh di tubuhmu hingga temui jantung yang berdebar. Iya, sayang iya. Itu jantungmu, itu surgaku.
Dan kau tak boleh lupa. Ada Cakra dan seorang bocah tanpa nama yang menemaniku. Kami menunggumu dengan cinta dan sabar. Terlebih aku, si mempelai pengantin yang akan mulai menjahit pakaiannya sendiri dengan penuh bahagia. Ya, bahagia.

Post a Comment

0 Comments