Anakanak muda memakai jubah hitam, tak ada beda. Yang jadi
penanda hanya warna sorotan mata. Berlainan, segala ada; Mejikuhibiniu! Bahkan
tak hanya itu. Abu ada, pun putih yang hadir nyaris bias, kehilangan diri.
Anakanak muda berjubah hitam. Sebagian pilih berbaring di
atas tanah. Mengecat langit tanpa rencana, seperti matahari yang juga tak
berencana keringkan cat yang sedetik lalu begitu basah. Retak! Jalur retak kini
tak lagi mampu dihitung. Mereka sembrawut tak jelas tujuan. Dari bumi, terlihat
seperti gulungan benang berbagai warna yang tak jelas awal akhirnya.
Kata langit; Yang rebah sibuk menatapku. Yang rebah, tak
sadar saling berdampingan di atas tanah, di bawah tatapanku."
Anakanak muda berjubah hitam. Di antaranya, dua pasang
beradu pandang. Mereka benturkan warna dirinya walau mengaduh kesakitan. Yang
menyatu itu mulai terpingkal; warna baru buat orang sulit bedakan "mana
kamu, mana aku." Tapi yang dua menjadi gila, tak begitu lama sejak putuskan
berbenturan. Mereka saling membelakangi, cari lagi warna sendiri, bahkan tak
peduli bahwa yang baru menyatu, sedang pergi berbulan madu. Tak hendak pisah
hingga puluhan tahun lamanya.
Ada juga pemakai jubah yang setia pandangi kertas kosong.
Memberi warna, memberi kebosanan.
"Tak ada yang lebih menakutkan selain hidup dengan satu
warna. Lebih baik, kubakar tubuhku dan kembali pada kekosongan tanpa harus
berpamitan. Bukankah manusia tak akan habis cara untuk cari pengganti yang
putuskan hilang?" Kertas pun pulang songsong leluhurnya yang tertawa riang
di dalam buku berjudul; ABU.
Langit retak, yang gila tak sadar keras kepala.
Banyak mata teteskan air. Bawa warna ke tanah, ke udara, ke
mana saja sampai bertemu muara. Jubah hitam patuh memeluk. Disembunyikannya
yang sedang lelah dengan keyakinan. "Pejamkanlah matamu. Saat terbuka
nanti, masing-masing dari kita akan tahu bahwa tak ada yang sia-sia dalam hidup
selama tak berhenti yakin dan mencoba." Jubah makin eratkan pelukkannya
antarkan tidur menyusul matahari yang sudah lebih dulu bermimpi.
Anakanak muda berjubah hitam, tidur. Ada pagi yang harus
dijumpai. Suatu pagi di mana mata kembali yakinkan warna, di mana jubah akan
hangat bersemangat dengan warna-warni, hadiah dari banyak duka berbagai mata.
Dan pagi itu akan ingatkan bahwa duka kerap datang ketika manusia lupa caranya
saling memahami.
sebelum pagi, hati bulan berbisik-bisik; lihatlah ada
pelangi cantik di atas sebuah negeri yang akrab hanya dengan warna hitam.

0 Comments