Langit yang menguning kerap jadi
kawan kita. Tangan-tangan terkelupas menariknya hingga tiba. Bunyi-bunyi liar
bersahutan walau kata manusia lain, itu adalah puisi yang hadirkan dirinya
sendiri. Begitu syahdu, begitu lirih. Aku tak habis pikir kenapa mereka bisa
lahir dari bermacam-macam keliaran.
Dalam petang, kita tahu jalanan
begitu tak bersahabat. Kepala-kepala saling mengumpat. Berbagai kepentingan
berebut diri capai apa yang namanya istirahat. Tapi apakah harus berlomba-lomba?
Lihatlah jalanan tempat manusia hidup ditertawakan angin-angin yang lewat
menuju langit. Tabraklah, tabrak. Sekencang mungkin, sesakit mungkin.
Barangkali memang jalanan adalah tempat yang penuh pemakluman. Maklum walau
harus saling benturkan kepentingan masing-masing.
: Sebuah renungan bisa tercipta di mana saja. Bahkan disela mencari
arah pulang.
Jejak-jejak ditampung langit
dengan begitu murungnya. Cat-catnya terkelupas, muram seperti dinding
pabrik-pabrik bercerobong. Bahkan angin yang hidupnya penuh pengembaraan tak
pelak turut berdoa: wahai engkau maha segalanya, jadikanlah kami serdadu langit
yang akan menusuk kepala manusia lalai dengan lembing paling tajam. Menakutkan.
Tengadahlah jumpai langit yang
menguning. Wajah-wajah lelah kita ada disana. Diantara awan dan lorong
matahari, diantara kelepak burung yang kesepian, serta pucuk-pucuk yang setia
berdiri melawan angin. Di atas sana tak ada kecemasan selain hanya ingatan
tentang kursi dan minuman yang rasanya bisa jadi apa saja di lidah kita. Tenanglah,
tenang. Rumah akan menunggu, istirahat tak perlu diburu. Hilang akal hanya
menabung kemarahan yang suatu hari akan keluar dari dalam diri, dari alam bahkan
tuhan, tanpa sadar.
Langit yang menguning memang
kerap jadi kawan kita. Tak apa tangan terkelupas. Tak apa bunyi-bunyi liar
menjadi puisi paling minor. Kita harus tetap menatapnya dengan keberanian serta
dada yang lebih lapang dari apa yang sedang kita tatap.
: Hidup adalah satu-satunya cara untuk mengenal kematian. Sedang kematian,
ialah awal dari kehidupan yang sebenar-benarnya kehidupan.

0 Comments