Subscribe Us

Header Ads

LAYUNG


Layung. Aku tak mampu terbangkan layang-layang milik kita. Bukan tanpa angin, namun kerap besar memuat air. Kerjaku melongo saja yung, pandangi almanak dan bertanya-tanya. Kapankah penghujan, kapankah kering berangin. 

Layung. Layang-layang mengudara di kolong dipan. Berawan debu, berbanyu kencing kecoa. Kadang kulem saja bagian-bagian yang sobek. Di kiri penuh, di kanan parah, di tengah-tengah nyaris pasrah. Namun lebih dari kadang, aku pulalah yang menguak jalur retak layang-layang milik kita.

Layung. Apa kabar cekakak girang. Dimana rerumput menyungging ramah, hantarkan seribu cerita tuan tani dan kerbaunya. Bukankah kita akan menggelinding riang? Seperti yang sudah sudah. Terus dan terus hingga lemas berebut tawa. Hanya saja, aku tak pernah suka ketika rumput bercerita tentang cengkrama petani-petani yang sedang berjalan menuju pulang. Rasanya begitu menakutkan.

Sekali lagi layung. Senja ini aku kembali kehilangan sempat terbangkan layangan milik kita. Tanganku rodi kepang umur bumi yang barangkali akan menawan seperti perawan di desa-desa. Tahukah rambutnya rontok? Namun yang mengagetkanku bukan ubin penuh serak uban yung,  melainkan batuk berenda darah yang menjadi sekutu petir paling nyaring. Duh gusti, darahnya banyak betul. Betul-betul banyak. Jemariku makin cekatan saja. Mengepang dan terus mengepang tanpa henti. Berharap dia cantik yung, walau tak ayal kujauhkan cermin dari jangkauan pandang kami. Tak cukup hati rasanya melihat apa-apa yang ada di wajah bumi kita.

Hey engkau Layung! Kenapa menunduk pilu? Aku rindu mengacak-acak langit bersama gelegar riangmu. Sungguh gila rasanya. Diburu cemas. Menunggu yang pias.

Pelan betul larinya.



Post a Comment

0 Comments