Layung. Aku tak mampu terbangkan
layang-layang milik kita. Bukan tanpa angin, namun kerap besar memuat air.
Kerjaku melongo saja yung, pandangi almanak dan bertanya-tanya. Kapankah
penghujan, kapankah kering berangin.
Layung. Layang-layang mengudara
di kolong dipan. Berawan debu, berbanyu kencing kecoa. Kadang kulem saja
bagian-bagian yang sobek. Di kiri penuh, di kanan parah, di tengah-tengah
nyaris pasrah. Namun lebih dari kadang, aku pulalah yang menguak jalur retak
layang-layang milik kita.
Layung. Apa kabar cekakak girang.
Dimana rerumput menyungging ramah, hantarkan seribu cerita tuan tani dan
kerbaunya. Bukankah kita akan menggelinding riang? Seperti yang sudah sudah.
Terus dan terus hingga lemas berebut tawa. Hanya saja, aku tak pernah suka ketika
rumput bercerita tentang cengkrama petani-petani yang sedang berjalan menuju
pulang. Rasanya begitu menakutkan.
Sekali lagi layung. Senja ini aku
kembali kehilangan sempat terbangkan layangan milik kita. Tanganku rodi kepang
umur bumi yang barangkali akan menawan seperti perawan di desa-desa. Tahukah
rambutnya rontok? Namun yang mengagetkanku bukan ubin penuh serak uban
yung, melainkan batuk berenda darah yang
menjadi sekutu petir paling nyaring. Duh gusti, darahnya banyak betul.
Betul-betul banyak. Jemariku makin cekatan saja. Mengepang dan terus mengepang
tanpa henti. Berharap dia cantik yung, walau tak ayal kujauhkan cermin dari
jangkauan pandang kami. Tak cukup hati rasanya melihat apa-apa yang ada di
wajah bumi kita.
Hey engkau Layung! Kenapa menunduk
pilu? Aku rindu mengacak-acak langit bersama gelegar riangmu. Sungguh gila
rasanya. Diburu cemas. Menunggu yang pias.
Pelan betul larinya.

0 Comments