Subscribe Us

Header Ads

KELAMBU MARINI




Ceritakanlah sekali lagi tentang Marini. Padaku seperti dulu. Dikawani teh hijau dan roti kukus, kau akan mulai dengan akting kening yang berkerut-kerut. Lalu aku pura-pura bersorak seraya ingsrutkan pantat  kedekatmu. Kita selalu begitu. Duduk di dipan yang sama, berendengan ongkang kaki seolah bergerak tebas udara. Angin dibangunkan, dingin direkatkan, jangkrik bersuara di ujung pandangan tanpa berani mendekatkan diri. Kita memang asik, ke utara selatan tanpa beban, kemudian tandangi timur dan barat yang tak pernah saling menjabat. Dan dongeng Marinimu, terlantun seperti dzikir-dzikir malaikat. Tak putus tasbihkan rindu, puja-puji, hingga dengungnya acap merangsak   lewati telinga, terobos gendang menyebar liar ke dalam darah di seluruh tubuhku. Seperti biasa, Marini selalu membuat hatiku meradang cemburu.

“Yun, cemas-cemasku dirubuhkan langkah-langkah kaki marini yang tak pernah beralas kaki. Di datanginya wajahku ketika kuyu penuh minyak. Tak letih disapunya keringat yang tak henti berpijak, tanpa kata wajahku kembali dibuat bagai pualam. Dia perempuan sempurna Yun, kaos kaki yang kutebar dipungut sabar, bahkan makanan di meja yang dinginpun akan rajin dipanaskannya, sampai aku benar-benar menyentuhnya”.

Entah kenapa aku selalu ingin mengingat Marinimu sal. Berulang minta kau ceritakan panah-panah kecilnya yang seperti kepunyaan dewi amor, atau mungkinkah dia titisan amor? Tapi sesudahnya aku pasti kembarakan amarah sampai sorot matamu yang penuh dengan namanya musnah dan hidup kembali bersama jangkrik. Lalu kita bertengkar. Teh hijau direguk lantai. Roti kukus disambut dinding. Sampan-sampan di laut oleng karena angin menderu hebat dari daratan, begitu kencang sampai cinta terbawa lari dan sisakan dengus pilu dari mulutmu. Kau menangis Sal.
Diantara segukan kau berteriak-teriak tanpa jeda.

“Mar, kau adalah ibu dari gelombang sepertiku. Direlakannya pergi menjauh tabraki karang, atau sekedar melandai cumbui pantai, tapi kau selalu yakin aku kembali padamu. Sedot semua yang ada di darat, sejauh yang mampu kujangkau. Lihatlah, kubawa Yuna, kuselipkan duka di tengah-tengah kebisuan cintamu. Mau bagaimana lagi Mar, Yuna kudapati begitu seksi di pantai, merangkak pasrah menujuku yang membawa kematian. Aku risau Mar.”

Detak jam menjadi satu-satunya penanda. Itu sudah terlalu nyata, setidaknya untuk ukuran punggungmu yang tengah berguncang hebat.

“marini akan merangkulku, marini tak akan membiarkan suaminya begitu rendah bungkuk di lantai, oh Tuhan, dia tidak sepertimu yang menggemaskan namun berbekal belati kecil. Sungguh jauh sekali denganmu, Si marku itu, dia dewi.”

Aku hanya mampu termangu saja sal. Betapa berharganya perempuan itu, Marinimu yang sekarang sudah dimiliki alam-alam syahdu. Bukan tak cinta, bukan tak ingin merangkul seperti yang sering dilakukan Marinimu, hanya saja apa kau bisa tidak membanding-bandingkan cinta kami, sedikit mengagungkanku dan berhenti meratapi kesalahan?

Hari itu hari terakhir mendengarmu bercerita tentangnya. Yang kufahami hanya satu bahwa aku adalah perempuan, yang selalu ingin tahu, yang kerap mengorek-ngorek hal yang kutau akan menyakitkan. Tapi maksudku pun hanya satu, ingin diakui bahwa aku juga perempuan yang hidup untukmu, mati denganmu, menangis dan tertawa karenamu. Dan aku telah cukup bersabar dengan cerita-cerita Marinimu yang tak lekang oleh kebaikan hatiku. Bisakah kau tahu maksudku sal? Maksud hati istri yang kau nikahi tempo lalu, seorang istri yang rela dihujat hanya karena cinta? Hanya karena Marinimu tak cukup tangguh menerimaku sebagai madunya dan dia memilih mati saja? Katakan padaku sal, apa hidup yang dirundung keterlanjuran  tak akan bisa kita perbaiki lagi?

***
Ceritakan padaku sekali lagi tentang Marini Sal. Apa saja boleh kau katakan sayang, dan aku tak akan marah sekalipun mendengar seperti yang tempo lalu pernah kau ceritakan.

“Marku itu liar yun, di dalam kelambunya dia adalah kuda sembrani. Aku didaulat menunggang, dibawa terbang merdeka menuju satu pelepasan. Aih dan lenguhannya kerap kuingat selalu yun, terkadang ketika kita bercintapun lenguhan “kuda” si mar itu menari-nari dalam gairahku yang semakin kendor. Sepertinya kau harus berterima kasih pada Marini karena berkatnya aku begitu telak membuat matamu merem melek yun.”

Kali itu mungkin aku memang tak tahan Sal hingga bergegas mengepak barang, sudahi pertengkaran dan pergi saja dari hidupmu. Langkahku memang buruk karena tak seharusnya meninggalkanmu yang menangis terbungkuk-bungkuk di lantai. Muak sudah rasanya hidup dibayang-bayang Marini. Kepalaku nyaris pecah, hatiku menjadi penuh nanah, sampai aku tak abaikan makian dan racauanmu yang makin hilang kendali.

Tapi kumohon ceritakan padaku Sal, ceritalah tentang Marini. Biarkan aku lihat lagi binar-binar matamu yang hidup walau itu milik Marini seutuhnya. Setidaknya kau akan mampu bertahan dengan mengingatnya. Dengan lukanya, lukamu seolah menampar-nampar namun kau akan tetap sadar Sal, tidak seperti keadaanmu yang sekarang. Kau tak waras, kau bahkan tak mampu mengenaliku lagi.

Enam bulan berlalu sudah. Tiap saat aku hanya mampu memandang pasrah suamiku yang terkungkung dalam penyesalan. Memilih lupa dan gila demi Marini, ya aku tau itu semua dia pilih untuk Marini. Atau bisa jadi gila agar terlepas dari perempuan sepertiku yang datang di hidupnya bagai sebuah kutukan. Entahlah tapi dia tetap suami terkasihku yang pada waktunya akan kembali pulang, duduk lagi di dipan yang sama, berongkang kaki dan habiskan malam dengan tawa-tawa renyah. Apakah itu semua cukup menjadi sebuah ingatan yang akan membawa suamiku pulang?

***


Sebuah malam yang baru reda dari keramaian pesta. Satu perempuan tergolek di dalam kelambu. Di mulutnya penuh busa, di matanya penuh ratapan. Izrail mengunjunginya ketika di kamar sebelah sedang begitu riuh oleh macam-macam desah dan lenguhan.

aku tidak ingin membencimu, tidak juga pada istri barumu. Anggap saja yang kulakukan adalah hadiah terakhir untuk suami yang begitu aku kasihi. Hanya saja jika boleh kutanggalkan topeng, aku ingin menangis saja Sal, dan memintamu meninggalkan perempuan jalang yang telah tega merebut milikku satu-satunya. Salam sehangat malam-malam yang kita lewati dalam kelambu, untuk suamiku yang hanya akan jadi milikku.

Marini.















Post a Comment

0 Comments