Subscribe Us

Header Ads

RAMAI MIMPI


Karena mimpi yang ini disulam dalam keterjagaan, penuh renda, ramai warna, bahkan melawan angin pengabar duka. Untuk pemilik rahim yang telah rela berbagi darah dan air susu, aku akan menjabat tangan takdir dan membawanya kehadapanmu.

Impian menggantung mendung di bawah langit. Tak serupa bintang, bukan pelangi, namun dia ada di atas sana bersama mereka yang indahnya kerap membungkam suara. Angin memang  jumawa meliuk-liukan ketegarannya di awang-awang. Penuh sorak dan cemooh. Sang angin membuat impian yang setipis gelembung nyaris pecah tak bersisa, menembus kulit halusnya lalu tinggalkan beberapa lubang seperti bekas bopeng, memuramkan.

Saat sore layang-layang datang berbekal surat, menengok impian yang wajahnya makin tak jelas tertutup luka. Padanya dikabarkan ribuan salam dari tanah, pun cerita-cerita tentang merahnya ambisi berupa nafsu  manusia di daratan sana. Sayang tak berlangsung lama karena angin membawanya jauh ke pucuk beringin, begitu saja seperti membuang sampah yang terserak di langit jajahannya. Suratpun jatuh tanpa sempat tersipu, menyisakan kelebat kecil di benak impian “kenapa angin begitu membenci kehidupanku”. Hingga malam berpendar hitam, disaksikan hujan dan gerombol awan, lembar surat yang terbuang disambut tangan kilat, dibacakan suara petir, menjelaskan wajah impian yang sudah seperti kabut.

Untuk Impian penghuni langit maha luas, Jika aku tak mampu menjumpaimu di langit sana, maka akan kutarik kau kebawah sini, kedalam kepalaku. Tidurlah karena pagi nanti kau akan terbangun di tempat tidur yang baru, dalam dadaku yang hangat dan tak berangin.

P.S Perempuan yang ini tak pernah melupakan mimpi usangnya.


Post a Comment

0 Comments