Tengah Malam diawal Februari yang Hening
Dan akhirnya cerita tentang nyawa-nyawa pengisi potongan kanvas dan kertas itu harus dikembalikan kepada tanah. Mata wayangku yang sunyi, sekali-kali ajaklah dalangmu berbincang saat kau tidak berada diatas panggung. Hingga ketika pentasmu tiba, aku akan duduk di deretan terdepan dan melihatmu tertawa walaupun naskahnya tidak pernah kau hafal diluar kepala. Mungkin ini adalah kutukan yang jedanya sangat singkat tuan, menanggung sakitnya rasa tawa saat menontonmu, saat–saat dimana yang kutangkap hanya kelebat-kelebat sunyi tanpa suara, dan matamu tidak pernah bicara dengan begitu hiruk pikuk.
Tuhan selalu mengetahui sebuah keberadaan yang tidak diketahui.
Dengarkanlah tepuk tangan mereka segelegar petir. Sebuah ramai yang aku tau kerap menyakiti telingamu, menyakiti peradaban tua yang tidak menginginkan cahaya neon, hingga kebosanan pada sebuah kata sakit kau jelmakan menjadi sunyi yang benderang. Akupun bosan tuan. Bandrol dikerah sunyimu terlalu mahal hingga tak mampu kupakai pergi menonton dagelan. Tapi sudahlah. Jemuku nyaris berkarat menyaksikanmu tanggapi riuh dengan senderan badan ke dinding bercucuk. Dimana bagimu sebuah istirahat adalah keringat darah yang sangat hebat.

0 Comments