Kalian pernah aku miliki sebagai tawa, juga sebagai persoalan meribu judul. Bergerak melupakan garis tangan yang mencari kita dengan beringas, menyender bergantian mengipasi leher penuh keringat. Dan sejenak kita memang lupa pada hidup yang terlalu nyata.
Kalian pernah kuwujudkan dalam mimpi buatan. Dalam sebuah senandung tipis yang bergumam disela ramai yang terlalu, membawakan irama-irama miring pengusir tebalnya ruwet kepala, bahkan tanpa sadar mengusik pergi sebuah keinginan yang setia bercokol memegang tulang di dadaku.
Kalian pernah sesempurna kawan dijaman nabi-nabi. Membela dengan sebenar-benarnya sebuah pembelaan, dimana rupaku bersemayam murung, maka disitulah letak bela yang digambar dengan kelakar dan makian. Hingga aku tak ubah menjadi apapun selain penidur yang berkawan dengan obat nyamuk.
Kalian pernah aku nikmati sebagai manis dalam kopi seduh, sebagai kelegaan dibatang pembungkus nikotin. Aku candu rasa yang menjadi isi, nyaris kepayahan ketika secangkir kopi dan rokok murung tanpa kalian, sepertiku. Tapi perkawanan serumit kaki yang ingin melangkah, dimataku sederhana hanya berupa tawa, di luar itu tetap hanya ada garis tangan yang tak letih mencari kita, mencariku.
Maaf jika semua berganti meninggalkan tahun-tahun milik kita. Pikiran terbelakangku jauh dari aura panas kejenakaan, dan siap ataupun tidak, aku memilih menjelajahi hidup tanpa tawa kalian yang kerap memberi peta untuk kembali. Jangan kira aku tak rindu kawan, kenangan demi kenangan tetap mekar diantara nyata yang kupelihara. Semoga kita akan saling mengabarkan suka ketika beranjak pulang ketempat yang pernah sama-sama terpijak. Semoga..
07 Mei, 11
Untuk kawan dikesementaraan yang kuabadikan
Untuk kawan dikesementaraan yang kuabadikan

0 Comments